Karimunjawa, 24 Juni 2026 – Disaster Risk Reduction Center (DRRC UI) kembali menegaskan kontribusinya dalam upaya pengelolaan danpemantauan lingkungan pesisir di Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari capaian Prof. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., Kepala DRRC UI, sebagai Awardee CORDAP CLIP 2025 dengan agreement reference CLIP-2025-1896 dan periode pekerjaan November 2025 hingga Oktober 2027. Prof. Fatma Lestari bertindak sebagai Principal Investigator (PI) yang memimpin dan bertanggung jawab atas keberlangsungan riset ini. Kali ini, tim DRRC UI melaksanakan kegiatan penelitian dan implementasi teknologi di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, melalui kolaborasi bersama Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahap survei awal yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan berlangsung pada 17–25 Juni 2026 dengan melibatkan tim gabungan dari DRRC UI dan BTN, dengan mobilisasi peralatan yang dimulai dari Indramayu, melintasi Jepara, hingga tiba di Karimunjawa. Rangkaian kegiatan mencakup perizinan dan koordinasi awal bersama Kantor Balai Taman Nasional Karimunjawa, perakitan perangkat, instalasi di lokasi, pengujian operasional, hingga pengambilan dan analisis sampel air. Rangkaian riset yang dilakukan merupakan bagian dari program pendanaan CORDAP (Coral Research & Development Accelerator Platform), yang berfokus pada solusi inovatif bagi konservasi terumbu karang di negara berkembang. Project dimulai pada 1 November 2025 dan berakhir pada 31 Oktober 2027.

Tim DRRC UI yang dipimpin oleh Dr. Adonis Muzanni, MEM, bekerja sama dengan tim BTN yang dipimpin oleh Dyah Ayu Puspitasari, S.A.P. dan Dr. Agus Roma, berfokus pada pemasangan dan pengujian perangkat pemantauan kualitas air bernama Seabug. Perangkat ini dipasang di
perairan sekitar Pantai Legon Lele, Karimunjawa, dengan lokasi yang dipilih berdasarkan hasil survei lapangan terkait kondisi perairan, kedalaman, keamanan pemasangan, serta kemudahan akses untuk pemantauan dan pemeliharaan.
Seabug sendiri merupakan platform apung berbasis teknologi IoT (Internet of Things) yang dilengkapi panel surya sebagai sumber energi, baterai dan sistem kelistrikan, control panel, pompa, sistem filtrasi berbasis Natural Base Solution (NBS) , serta sensor pemantauan kualitas air. Setelah proses perakitan dan instalasi rampung, tim melakukan pengujian operasional terhadap seluruh subsistem, dan hasilnya menunjukkan bahwa perangkat dapat beroperasi dengan baik. Melalui sistem IoT ini, data hasil pengukuran kualitas air laut terkirim secara real-time dan dapat langsung dipantau melalui tampilan layar monitor, baik oleh publik maupun mitra terkait. Pelaksanaan proyek ini untuk Meningkatkan Kualitas Air untuk Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia yang sudah dicapai pada Fase 1 di area BTN Karimunjawa, kegiatan Fase 2 di Kepulauan seribu dan Fase 3 di Pantai Pandawa, Baliakan dilaksanakan segera. Pada tiap fase akan didukung dengan real time monitoring dengan system IoT, pembuatan konstruksi kapal dan unit Filtrasi NBS, pengujian berbasis lapangan, dan penguatan kapasitas komunitas melalui Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan.
Dashboard monitoring dapat diakses pada tautan https://krmj.acosmos.online/ dengan username dan password. Hasil pengujian Fase 1 menunjukkan bahwa komponen utama Seabug, sistem filtrasi, sensor kualitas air, dan dashboard monitoring, dapat berfungsi dengan baik. Dari sisi hasil pengujian, analisis laboratorium terhadap sampel air sebelum (inlet) dan sesudah
(outlet) proses filtrasi menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Konsentrasi kromium heksavalen (Cr⁶⁺) turun signifikan dari 0,014 mg/L pada inlet menjadi kurang dari 0,001 mg/L pada outlet, berada di bawah ambang baku mutu air laut sebesar 0,005 mg/L. Parameter lain seperti Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), oil and grease, merkuri, tembaga, dan timbal juga tercatat berada di bawah baku mutu yang berlaku, baik pada sampel inlet maupun outlet. Tidak hanya logam berat, pengujian terhadap kandungan mikroplastik turut menunjukkan hasil positif. Jumlah total partikel mikroplastik berkurang dari 67 partikel pada sampel inlet menjadi 27 partikel pada sampel outlet, atau mengalami penurunan sekitar 60%. Kolaborasi antara DRRC UI dan Balai Taman Nasional Karimunjawa ini menunjukkan bagaimana riset terapan dapat memberikan manfaat langsung bagi pengelolaan kawasan konservasi. Kehadiran teknologi pemantauan berbasis sensor IoT dan tampilan data real-time memberikan gambaran kualitas air secara lebih terukur dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pengelolaan ekosistem pesisir di kawasan Taman Nasional Karimunjawa.







