Welcome to Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia

Prof. Fatma Lestari Wakili Indonesia pada ICRS 2026 di Auckland

Auckland, Selandia Baru — Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekaligus Ketua Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI), berpartisipasi dalam International Coral Reef Symposium (ICRS) 2026 yang berlangsung di Auckland, Selandia Baru, pada 21–26 Juli 2026. Simposium ini mempertemukan lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara dan menjadi penyelenggaraan ICRS pertama kali di New Zealand, sekaligus menyoroti pentingnya kawasan Pasifik yang menaungi sekitar seperempat luas terumbu karang dunia. Kehadiran dalam acara ini merupakan bagian dari capaian Prof. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., Kepala DRRC UI, sebagai salah satu penerima hibah CORDAP (Coral Research & Development Accelerator Platform), yakni CORDAP CLIP (Coral Local Innovation Program) 2025. Dalam kesempatan ini, DRRC UI diwakili oleh Prof. Fatma Lestari bersama Dr. Adonis Muzanni, MEM.

Sepanjang penyelenggaraannya, ICRS 2026 menghadirkan program ilmiah berupa pembicara pleno terkemuka dunia, ratusan sesi teknis, presentasi poster, lokakarya, hingga forum jejaring, yang membuka ruang kolaborasi lintas disiplin dan lintas wilayah. Para delegasi turut membahas tantangan yang dihadapi terumbu karang, mulai dari perubahan iklim, pengasaman laut, hingga dampak aktivitas manusia, sekaligus memaparkan solusi praktis, riset terbaru, dan sistem pengetahuan tradisional yang diharapkan dapat membentuk arah konservasi dan pengelolaan terumbu karang ke depan. Simposium ini juga mengangkat perspektif dan pengetahuan masyarakat Pasifik, menegaskan pentingnya memadukan pengetahuan Indigenous dengan riset ilmiah dalam menjawab tantangan terumbu karang secara global.

Selama simposium berlangsung, CORDAP menggelar dua sesi Town Hall pada 21 dan 22 Juli 2026 di sela waktu makan siang, masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Sesi pada hari pertama berfokus pada pemaparan perkembangan program serta capaian proyek-proyek yang didanai CORDAP, termasuk kesempatan bagi para awardee untuk mempresentasikan progres proyek masing-masing. Sesi hari kedua menghadirkan diskusi panel mengenai dampak program CORDAP, dilanjutkan dengan diskusi terbuka mengenai arah penguatan program ke depan.

Selain sesi Town Hall, Prof. Fatma Lestari dan Dr. Adonis Muzanni turut berpartisipasi dalam Community Dialogue bertajuk “Shaping the Future of Coral R&D” yang diselenggarakan di Ruang 301 NZICC. Sesi interaktif ini mempertemukan komunitas peneliti dan pegiat konservasi terumbu karang dari berbagai negara untuk membahas langkah-langkah memperkuat riset, inovasi, dan implementasi program CORDAP ke depan. Diskusi berlangsung dalam format panel yang dilanjutkan dengan forum diskusi terbuka, memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan masukan dan rekomendasi terkait arah kerja sama dan dampak program CORDAP secara global.

Dalam forum internasional tersebut, Prof. Fatma memperkenalkan inovasi “Seabug”, yaitu wahana tanpa awak berbasis Internet of Things yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi sekaligus mengurangi pencemaran minyak, logam berat, dan mikroplastik di wilayah pesisir serta ekosistem terumbu karang. Inovasi ini mengintegrasikan teknologi pemantauan dengan nature-based solutions menggunakan berbagai material alami lokal. Kehadiran Prof. Fatma Lestari dan Dr. Adonis Muzanni di ICRS 2026 sekaligus memperluas kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung riset dan inovasi untuk konservasi terumbu karang, sejalan dengan komitmen jangka panjang DRRC UI dalam pengelolaan risiko bencana dan lingkungan pesisir di Indonesia.

Kepesertaan Prof. Fatma dalam ICRS 2026 menjadi bagian dari kontribusi aktif Indonesia dalam mendorong kolaborasi global untuk perlindungan terumbu karang, pengendalian pencemaran laut, dan penguatan ketangguhan masyarakat pesisir. Kehadirannya juga memperkuat posisi Universitas Indonesia dalam pengembangan riset multidisiplin yang inovatif, berdampak, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Leave a Reply