Welcome to Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia

DRRC UI Berbagi Pengalaman dalam Dialog Ekosistem Drone untuk Kebencanaan di ADEXCO 2026

Jakarta, 10 September 2026 – Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) turut berpartisipasi dalam kegiatan “Dialog Ekosistem Drone untuk Kebencanaan” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sistem & Teknologi Tanpa Awak (ASTTA) sebagai bagian dari rangkaian Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang D104, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Mengusung tema “Kebutuhan dan Tantangan Operasional dalam Pemanfaatan Drone untuk Kebencanaan”, dialog ini mempertemukan kebutuhan operasional kebencanaan dari perspektif Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan kapabilitas yang telah dimiliki oleh ekosistem drone Indonesia, mulai dari komunitas dan operator, industri dan penyedia teknologi, akademisi dan peneliti, hingga praktisi geospasial dan data.

DRRC UI diwakili oleh Dr. Adonis Muzanni, MEM., Project Manager DRRC UI, yang hadir sebagai salah satu invited contributor dalam sesi dialog ekosistem pada pagi hari, didampingi oleh Aisha Salwa Savitri, S.K.K.K.. Dalam kesempatan tersebut, Adonis Muzanni membagikan pengalaman DRRC UI dalam memanfaatkan tiga jenis wahana drone, yakni drone udara, drone termal, dan drone bawah air untuk mendukung operasi kebencanaan, mulai dari pemetaan cepat wilayah terdampak,deteksi indikasi tumpahan minyak, hingga pencarian dan penyelamatan korban.

Beliau memaparkan bahwa nilai utama pemanfaatan drone terletak pada kemampuannya menghasilkan situational awareness yang mempercepat asesmen dan koordinasi di lapangan, serta memperluas jangkauan pencarian sekaligus mengurangi risiko bagi tim penyelamat. Ditegaskan pula bahwa pemilihan platform dan sensor drone harus didasarkan pada pertanyaan keputusan yang ingin dijawab di lapangan, bukan semata pada teknologi yang tersedia.

Dalam dialog tersebut, turut dibahas sejumlah tantangan operasional penggunaan drone untuk kebencanaan, di antaranya akses dan cuaca di lokasi bencana, koordinasi dan keamanan dengan otoritas setempat, ketersediaan sumber daya manusia terlatih, serta keterbatasan data dan perawatan alat. Kebutuhan utama yang mengemuka bukan sekadar menambah jumlah drone, melainkan memastikan sistem dan ekosistem pendukungnya benar-benar siap digunakan saat bencana terjadi. Hasil dialog ekosistem ini rencananya akan dirangkum ke dalam dokumen ASTTA Ecosystem Brief – Drone untuk Kebencanaan, yang memuat
identifikasi kebutuhan operasional, kapabilitas ekosistem, gap implementasi, serta peluang kolaborasi, sebagai bahan masukan dan rekomendasi ekosistem drone Indonesia kepada pemerintah. Kegiatan ini turut dilanjutkan dengan workshop operasi drone pada sesi siang yang difasilitasi oleh Drone Edutech, memberikan gambaran praktis mengenai perencanaan hingga pelaksanaan misi drone untuk kebencanaan. Partisipasi DRRC UI dalam Dialog Ekosistem Drone untuk Kebencanaan ini menegaskan peran akademisi dalam menjembatani kebutuhan operasional kebencanaan dengan perkembangan teknologi tanpa awak di Indonesia.

Leave a Reply