NEWS

Membaca adalah membuka jendela dunia

"Kerja sama Universitas Indonesia-Kemenparekraf RI Dalam Wujudkan World Class Desa Wisata (DeWi) Memasuki Tahap Verifikasi Lapangan, Pembekalan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) serta Bantuan Hidup Dasar (BHD) Bagi Pengelola Desa Wisata (DeWi), dan Serahkan Donasi ke Empat Desa Wisata di Provinsi Bali"
10-13 Oktober 2022

14.1

Program Kedaireka Matching Fund Universitas Indonesia-Kemenparekraf RI dalam mewujudkan Desa Wisata (DeWi) berkelas dunia (World Class DeWi) melalui implementasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment) serta mitigasi bencana sudah memasuki tahap verifikasi lapangan. Universitas Indonesia melalui Disaster Risk Reduction Center (DRRC), dosen; mahasiswa; dan alumni dari Departemen K3 FKM serta Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Universitas Indonesia kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 10-13 Oktober 2022.

Seperti yang sudah dipahami bahwa Indonesia adalah wilayah rawan bencana dan implementasi mitigasi bencana menjadi hal yang penting. Beberapa dasar yang menginisiasi program ini dilaksakanan yakni dari untuk berkontribusi dan berperan strategis dalam transformasi pembangunan ekonomi nasional (PERPRES 18/2020 RPJMN). Selain itu Wabah Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan. Kemenparekraf sendiri berupaya memicu kebangkitan desa, penggerak roda ekonomi dan mendorong program nasional “Indonesia Bangkit” melalui program Anugerah Desa Wisata (ADWI).

Universitas Indonesia sendiri melalui DRRC UI telah mengembangkan karya rekacipta EDURISK (platform EDUkasi RISiko) pada level TKT 7- Purwarupa final & telah terdaftar sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) bernomor 000256299 sejak tanggal 1 Januari 2021. Adopsi IPTEK EDURISK & kepakaran UI sebagai media belajar daring tentang CHSE dan kebencanaan dengan keunikan metode pembelajaran interaktif menggunakan video sehingga materi mudah dipahami, diakses, waktu belajar fleksibel, video praktek, dan knowledge management.

Tujuan akhir dalam program ini nantinya menghasilkan sebuah rekacipta “Sistem Informasi Desa Wisata (SIDEWITA)” yakni emergency panic button, dashboard pemetaan risiko CHSE dan bencana; monitoring & evaluasi implementasi CHSE dan mitigasi bencana, serta Latihan kesiapsiagaan bencana virtual tabletop exercise (V-TTX).

Dipilih empat DeWi di Provinsi Bali yang menjalani verifikasi lapangan, pembekalan, dan penyerahan donasi peralatan P3K yakni DeWi Penglipuran (Kab.Bangli), DeWi Undisan (Kab. Bangli), DeWi Carangsari (Kab. Badung), dan DeWi Tenganan Pegringsingan (Kab. Karang Asem).

Diharapkan kedepannya setiap desa wisata mengintegrasikan proses manajemen risiko sebagai bagian dari manajemen, pengambilan keputusan dan diintegrasikan ke dalam struktur, operasi dan proses pengelolaan Desa Wisata (DeWi). Melengkapi hal tersebut kedepannya diperlukan penunjukan seksi dalam susunan organisasi pengelola DeWi secara independen mengelola manajemen risiko.

“Kegiatan verifikasi lapangan ini sangat berperan penting dalam mensukseskan program Kedaireka Matching Fund UI-Kemenparekraf dalam mewujudkan Desa Wisata (DeWi) berkelas dunia (World Class DeWi) melalui implementasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment) serta mitigasi bencana. Agar mendapat hasil yang optimal, sebelum kegiatan verifikasi lapangan kami mendahuluinya dengan FGD (Focus Group Discussion) secara online, kemudian kaji risiko HSE serta bencana di lapangan guna verifikasi hasil diskusi. Tidak lupa kami juga lakukan pembinaan kepada para pengelola dan pelaku desa wisata. Kami juga memberikan donasi berupa peralatan pendukung dalam penanganan risiko dan bencana di DeWi.” ungkap Prof. Fatma Lestari selaku Ketua DRRC Universitas Indonesia sekaligus pengusul program.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tim yang diturunkan dalam kegiatan verifikasi lapangan dibagi menjadi dua, yakni tim A dipimpin oleh Drs. Adonis Muzzani, M.E.M dengan wakil Abdul Kadir, S.K.M., M.Sc.. Lokasi wisata yang menjadi ruang lingkup verifikasi lapangan tim A adalah DeWi Penglipuran dan DeWi Carangsari. Adapun koordinator kaji risiko, pembinaan HSE & kebencanaan adalah Naufal Ayudha Achmad, S.K.K.K. Untuk urusan komunikasi dan koordinasi dipegang oleh Dessy Dwi Aryani, S.E. dari Kemenparekraf.

Adapun tim B diketuai oleh Dr. Robiana Modjo, S.K.M., M.Kes, wakil dari tim ini adalah Fira Azzahra, BMedSc (Hons) dengan koordinator kaji risiko Naila Adinda Achmad. Desa Wisata (DeWi) yang menjadi tupoksi tim pimpinan ibu Bian meliputi Undisan dan Tenganan Pegringsingan. Perwakilan dari Kemenparekraf sendiri adalah Esza Larashati Gunawan, S.Tr.Par. yang diamanahi tugas melakukan koordinasi dan komunikasi dalam pelaksanaan verifikasi lapangan.

“Kami melihat antusiasme pengelola DeWi sangat tinggi mulai dari mereka menceritakan risiko apa saja yang terjadi atas aktivitas wisata. Mereka juga menceritakan bagaimana cara penanganannya yang dilakukan di lapangan. Reaksi para peserta yang hadir tentunya sangat dibutuhkan untuk tim program ini menghasilkan data yang akurat hingga akhirnya menjadi data modul pelatihan dan pengembangan Dewa Wista (DeWi) dalam menunjang aspek CHSE dan kebencanaan kedepannya.” ungkap Ezsa Larashari dari Kemenparekraf RI yang ikut langsung dalam verifikasi lapangan di Bali. Setiap tim didampingi oleh satu orang dokter sebagai pemateri P3K dan BHD yakni dr. Gede Bagus Yoga Satriadinatha yang merupakan dokter muda lulusan Universitas Indonesia asli Bali untuk tim A, sementara tim B didampingi oleh dokter Muhammad Iqbal Adi Pratama yang merasakan antusias peserta dari DeWi yang ia kunjungi.

“Warga desa Undisan dan Tenganan yang banyak berprofesi sebagai guide dalam kegiatan trekking terlihat antusias dengan materi P3K. Mulai dari hal yang sederhana seperti penanganan keseleo yang cukup banyak dikeluhkan warga Tenganan, hingga patah tulang yang walau belum terjadi. Warga tertarik dengan materi pemasangan bidai. Saya lihat materi bantuan hidup dasar menjadi materi yang lebih relatable bagi warga desa Tenganan yang pernah menghadapi kejadian henti jantung yakni seorang turis Swiss pada tahun 2014. Perwakilan warga dari kedua desa juga mencoba melakukan RJP pada manekin, namun kadang warga masih merasa perlu pelatihan lagi kedepannya. Kedepannya mungkin perlu disediakan waktu dan manekin tambahan serta doorprize lebih banyak lagi agar pengelola dapat melakukan latihan RJP secara hands-on ke manekin.” ungkap dr. Iqbal.

Koordinator tim kaji risiko tim B, Fira Azzahra, BMedSc (Hons) menyampaikan sudah pernah ada briefing dengan perwakilan Dinas Provinsi Bali, namun masih ada hal teknis yang mesti dibantu penjelasannya secara langsung oleh tim dari DRR UI-Kemenparekraf RI ke DeWi yang diverifikasi di Bali. Permasalahan lain yang memang dapat ditangani langsung oleh tim adalah membantu dalam mengisi risk register. Dalam pengalamannya juga Fira mengapresiasi pengelola DeWi Undisan yang cukup memahami arahan dari DRRC UI-Kemenparekraf RI.

Proses verifikasi lapangan dan pengisian formulir risk register semakin tegas dan jelas melalui pengarahan langsung dari Dr. Robiana Modjo, S.K.M., M.Kes. kepada peserta yang terbilang masih pasif. Dengan kepiawaiannya Dr. Robiana berhasil mengarahkan peserta yang terdiri dari pengelola wisata dan tour guide untuk bercerita pengalaman unik yang pernah terjadi DeWi tersebut seperti sengatan ular, dan serangan jantung.

Pengalaman lain dari DeWi Carangsari (Tim A) yang menunjukkan antusias dari kepala pengelola desa Wisata Carangsari yakni Ida Bagus dengan kehadiran tim dari DRRC UI dan Kemenparekraf RI. Terlebih terkait dengan adanya kegiatan pembinaan melalui penyampaian materi dan praktek tentang pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) juga materi tentang bantuan hidup dasar yang disampaikan oleh dr. Gede Bagus Yoga Satriadinatha.

“Meski di lapangan kami melihat implementasi aspek HSE masih lemah, namun dengan antusiasme pengelola DeWi menjadikan kami kian optimis program ini dapat berjalan dengan baik. Catatan kecilnya adalah dalam implementasi dikemudian hari kami melihat butuh peningkatan keahlian tim DeWi.” ungkap Drs. Adonis Muzanni, M.E.M.

Keempat desa wisata yang menjadi tujuan verifikasi lapangan mendapatkan bantuan perlengkapan P3K yang meliputi tensimeter 1 buah, emergency P3K kit, tandu lipat 1 buah, dan satu paket bidai-mitela. Diantara DeWi tersebut ada sudah mengantongi penghargaan Sustainability Certificate yakni DeWi Penglipuran, dan sebagai penerima anugerah Desa Wisata yakni DeWi Undisan, DeWi Carangsari, dan DeWi Tanganan Pegringsingan. Sementara tahapan yang harus dilakukan setelah verifikasi lapangan, Pelatihan HSE & Kebencanaan ini adalah pengembangan Sistem Informasi Desa Wisata (SIDEWITA) & Kebencanaan, Analisis Dampak Bencana, Manajemen Krisis Tata Kelola Destinasi, serta Pengelolaan Program. ##



Dokumentasi

Penyerahan bantuan peralatan P3K oleh perwakilan tim UI-Kemenparekraf kepada pengelola DeWi Carangsari dihadiri apatatur desa, perwakilan Dinas Pariwisata Bali dan Kab. Badung
Kunjungan tim UI-Kemenparekraf ke rumah penjual hasil kerajinan warga DeWi Carangsari
Drs. Adonis Muzanni, M.E.M perwakilan UI menyerahkan bantuan alat P3K kepada pengelola DeWi Penglipuran
Proses diskusi tim UI-Kemenparekraf dengan pengelola desa wisata tentang potensi risiko bencana di DeWi Carangsari
Peserta praktik terkait materi pembekalan P3K di DeWi Carangsari



Kembali